Saturday, April 27, 2013

WANITA YANG PENUH KEYAKINAN

Salah satu alasan kenapa para Lady in Waiting sampai sekarang masih single adalah, belom bertemu dengan pria yang kita idamkan di antara begitu banyak pria di luar sana. Kalopun kita rasa udah ketemu, eh ternyata doi ga tertarik sama kita. Haha. Seperti apa sih tipe pria idaman kita? Apa sih yang kita liat dari seorang pria

Pasti ada macem-macem jawaban deh, yang ganteng, yang mapan, yang dewasa, yang lucu, yang setia, yang romantis, yang tingginya lebih dari 180 cm, yang perutnya rata, yang ada lesung pipi-nya, yang dadanya bidang, dan yang masih banyak lagi. Setiap orang pasti punya kriteria sendiri. Hanya satu hal yang perlu kita tau, jangan mengharapkan pria sempurna, karena bahkan Choi Siwon pun ga sempurna. Hahaha. Gw pernah nulis tentang ini, baca di Waiting for a Perfect Man ya. 

Kriteria yang gw tulis di atas bener-bener punya gw loh, tapi waktu gw belom ngerti dan masih lugu kok. Haha. Sekarang gw udah menetapkan kriteria yang bener, yang ga duniawi lagi, terus ga muluk-muluk, tapi sangat penting buat gw. Gw pernah tulis di Man of My Dream, gara-gara ledekkan temen-temen kantor gw haha. Kriteria yang gw tulis disana, kalo disingkat dengan istilah yang sering digunakan di kalangan orang Kristen adalah godly man. Pria saleh. 

Pria saleh? Pria alim yang pendiam dan relijius? Pasti ga gaul dan ngebosenin banget deh! Dia pasti ga bisa bercanda dan garing. Itukah yang ada di pikiran kita pas denger istilah itu? 

That’s not true. Pria saleh alias godly man adalah pria yang tujuan hidupnya adalah untuk memuliakan Tuhan, dia ga sempurna, tapi hari demi hari dia hidup dalam Kristus dan Kristus di dalam dia, dan dia berjuang untuk bisa semakin serupa dengan Kristus. Dia masih bisa berbuat dosa, tapi karena Roh Kudus ada di dalam dia, dia rendah hati dan bersedia belajar, selalu dengar-dengaran firman Tuhan dan bersedia dibentuk sama Tuhan. Dia masih pria yang ga bisa baca pikiran wanita dan masih berpotensi menyakiti kita dan ga bisa memenuhi harapan-harapan kita, tapi dia mau mencoba mengerti kita, dan tetap mengasihi kita yang adalah tulang rusuknya. 

Dan pria saleh itu ga harus selalu pendiam dan membosankan. Mereka, menurut gw, lebih hati-hati dalam bicara karena mikirin perasaan orang lain, dan ga sembarangan melontarkan lelucon yang bisa menyinggung orang. But it doesn’t mean they can’t make us laugh. Mereka tetap berwawasan luas, tapi klo ditanya tempat dugem yang paling hip, ya jelas mereka ga tau, terus dibilang ga gaul deh. Hehe. Seperti itulah kira-kira pendapat gw. 

Hayoooo mau ga dapet suami yang kaya gitu??? 

Langkah pertama adalah, minta sama Tuhan. Minta Tuhan ubahkan KITA jadi godly woman. Jadi wanita yang semakin hari semakin serupa dengan Kristus, jadi wanita yang rendah hati dan mau ditegur, mau diajar, mau dibentuk, mau dengar-dengaran firman, mau mengasihi, mau hidup dalam Kristus dan ketetapan-Nya, mau menghasilkan buah roh, mau taat, mau melayani, dll. Karakter seorang putri Kerajaan Surga deh pokoknya. Hehe.


Lalu apa hubungannya kriteria-kriteria semacam itu dengan wanita yang penuh keyakinan? 

Mari kita telusuri lebih lanjut. Pernah ga, kita meragukan kriteria-kriteria kita, lalu bertanya pada diri sendiri, “Apa masih ada pria kaya gitu di luar sana? Apa pria kaya gitu mau sama diriku yang banyak kekurangan? Apa pria kaya gitu mau terima masa laluku yang kelam?” 

Gw pernah. 

Lalu gw dapet jawabannya di buku ini, dan gw akan share disini. 

Pria saleh masih ada di luar sana, Tuhan sediakan bagi wanita-wanita yang mengasihi Dia. 

Lalu apa dia mau sama kita yang banyak kekurangan atau masa lalu kita begitu ga layak? 

Check this out: 

Barang-Barang Rusak 

Gw pribadi, mengalami hal yang sama dengan si penulis. Mungkin karena kita sama-sama kenal Yesus pas kita udah mulai dewasa, sehingga di masa remaja kita udah banyak melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri. Gw juga mikir hal yang sama, seandainya gw lahir di keluarga Kristen yang saleh, sehingga gw dari kecil udah dididik yang bener, udah kenal firman, maka gw ga akan tumbuh dengan menyakiti begitu banyak orang, melakukan kesalahan-kesalahan bodoh, menyakiti diri gw sendiri dan juga kehilangan banyak waktu buat melayani Tuhan. 

Gw pengen kaya orang lain yang pelayanan dan jadi pelaku firman dari mereka kecil, sehingga mereka tumbuh dengan karakter-karakter Kristus. Sedangkan gw, kebiasaan bertahun-tahun udah membentuk sifat dan karakter gw seperti sekarang, dan sangat susah buat mengubah itu. Dari yang ga sabaran harus nahan diri supaya sabar, nahan diri supaya ga emosian (baca di Kenapa Aku Harus Naik Angkot), nahan diri supaya bisa lemah lembut, bisa tunduk sama otoritas, itu susahnya luar biasa

Belom lagi para wanita lain yang mungkin di masa lalunya ga jaga kekudusan, atau pernah pake narkoba, atau dipenjara, atau segala macam kesalahan lain yang bikin kita jadi merasa orang paling berdosa sedunia. Kita jadi merasa kaya barang rusak dan ga layak dapet pria saleh. 

Tapi terima kebenaran ini para Wanita yang Penuh Keyakinan, bahwa: 
  1. Allah membuang dosa kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12) dan sedalam tubir laut (Mikha 7:19). Tinggalkan dosa dan masa lalu kita yang buruk. Entah apakah itu dosa seksual (baca di Rewrapping the Gift) atau dosa-dosa yang lain. 
  2. Mulai hidup baru dalam Kristus. 2 Korintus 5:17 berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang". Mulai hidup sebagai wanita saleh, wanita yang berkenan di hati Tuhan. Rekomendasi gw, baca A Woman After God’s Own Heart by Elizabeth George. 
  3. Mulai membentuk diri jadi pribadi yang tepat, selagi menunggu pasangan yang tepat. Baca Becoming a Woman God Wants me to Be

Selagi melakukan hal-hal tersebut, berjuang dan bergumul, tetap tenang di dalam Kristus dan jangan turunkan standar kita mengikuti standar dunia. 

Inilah fungsinya jadi wanita yang penuh keyakinan. YAKINLAH bahwa Allah menyiapkan yang terbaik untuk kita. Jangan membiarkan kekurangan dan masa lalu kita membuat kita settle for less. Well, kita mungkin belom bisa disebut godly banget, but we are working on it, right? Kita masih dibentuk Tuhan dan begitu juga calon suami kita. Baca deh kisah cinta Eric dan Leslie Ludy, penulis buku When God Writes Your Love Story. Di buku mereka yang judulnya When Dreams Come True, kita bisa liat pergumulan-pergumulan Leslie yang merasa klo dia ga pantes untuk Eric. Baca juga kisah Shannon dan Joshua Harris di Boy Meets Girl

Kenapa harus penuh keyakinan dan ga boleh turunin standar? 
  1. Kita bakal bersama dia seumur hidup. Dia yang bakal jadi kepala keluarga, orang yang paling deket sama kita, dan kepada dia kita harus tunduk (Efesus 5:22). Tentunya kita ga boleh sampe salah pilih donk? 
  2. Kita bukan cuma cari pasangan hidup, tapi kita cari ayah untuk anak-anak kita. Baca disini buat lebih lengkapnya: Mencari Ayah untuk Anak-anakku by Shinta Poulsen. 
  3. Pernikahan itu tujuannya lebih ilahi dari apa yang kita kira. Pernikahan itu melambangkan hubungan Yesus dengan jemaat-Nya. Pernikahan itu dimaksudkan untuk kemuliaan Tuhan, jadi bukan buat sembarangan. Baca di This Momentary Marriage by John Piper. 
Sekarang di saat umur kita masih kepala dua gw masih bisa YAKIN, tapi gimana nanti klo ternyata umur udah kepala tiga dan masih belom bertemu pria seperti itu, lalu apakah akhirnya kita akan nurunin standar? 

Kalau saat itu emang datang, buka post ini dan baca ulang. Haha. 

Do not settle for less while God wants to give us the best. 


Standar-Standar Alkitabiah 

Dibawah ini adalah contoh kualitas pria yang mungkin kita butuhkan: 
  • Orang Kristen yang dikendalikan oleh Roh Kudus (Efesus 5:18) 
  • Yesus nomor satu dalam kehidupannya (Markus 12:30) 
  • Mengerti bagaimana bergantung secara penuh pada Yesus (Filipi 4:13) 
  • Berpikiran pada pelayanan (1 Korintus 4:2) 
  • Seorang pria yang memiliki visi, peduli akan jiwa yang tersesat (Roma 10:14) 
  • Roh yang peka, sensitif pada kebutuhan-kebutuhan orang lain (Galatia 6:2) 
  • Mengerti tanggung jawab luar biasa seorang suami pada istrinya (Efesus 5:25-31) 
  • Cukup rendah hati untuk dapat diajar dan mengajar orang lain (Matius 28:19-20) 
  • Pria yang berdoa, ia tahu kunci keberhasilan adalah waktu pribadinya dengan Allah (Kolose 4:2) 
  • Pria keluarga, ia rindu membesarkan anak-anak bagi kemuliaan Allah (Amsal 22:6) 
Standar-standar ini nantinya akan membantu ketika kita dikuasai emosi dan gelora cinta pada pria yang salah. Seperti sebuah pepatah bilang, “Buka dua mata lebar-lebar sebelum menikah, dan tutup sebelah mata setelah menikah.” Kita memang ga bisa menuntut kesempurnaan dan katanya kalo cinta harus menerima orang apa adanya. Benar, terima suami apa adanya. Tapi sebelumnya? Buat pilihan dan keputusan bijak sebelum menjadikannya suami kita


A Man Worth Waiting For gw tulis terpisah ya, soalnya panjang. Click link to read. 

P.S. Tapi tentu saja walaupun gw ga lahir di keluarga saleh, gw sangat bersyukur dengan keluarga dan kondisi sekarang, dan kesempatan buat terus bergantung sama Tuhan dalam proses pembentukkan. Later I will write about Choosing Our Family.

Next: Wanita yang Sabar

No comments:

Post a Comment