Sunday, April 14, 2013

REWRAPPING THE GIFT

Menyambung post tentang Bab 6 dari buku Lady in Waiting, yang berjudul Wanita yang Murni. Disana kita udah belajar mengapa sebagai wanita kita harus menjaga kemurnian kita, betapa berharganya itu, apa saja konsekuensi dari seks di luar nikah, bagaimana cara menjaga kemurnian, juga batasan fisik dan emosi. Lalu sekarang, bagaimana kalo ternyata kita udah pernah melakukan itu? 

Pertama, kalo kita jadi merasa bersalah karena udah terlanjur melakukan itu, minta ampunlah pada Tuhan. Jangan membiarkan perasaan bersalah itu bikin kita ngerasa kotor, hina, dan ga layak sehingga kita bener-bener menjauh dari Tuhan. Parahnya lagi, kita melakukan dosa yang sama karena ngerasa udah kepalang basah jadi dinikmati aja. It’s a wrong choice


Meminta Pengampunan 

Kita harus tau bahwa kita semua emang kotor, hina, dan ga layak. Gw kotor, hina, dan ga layak dengan semua yang gw lakukan di masa lalu, gw pernah bohong, pernah menyakiti orang, pernah sirik, pernah benci sama orang, pernah kepaitan, pernah nonton bokep, pernah ga prioritasin Tuhan, pernah memuja sesuatu yang sebenernya ga berkenan buat Tuhan, pernah kurang ajar sama orang tua, pernah sombong, pernah meragukan Tuhan, pernah jadi batu sandungan, intinya pernah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan gw. Semua itu bikin gw kotor, hina, dan ga layak sedikitpun di hadapan Tuhan. 

Begitu juga semua manusia di dunia ini. Adakah 1 manusia aja di dunia ini yang ga pernah melakukan hal-hal di atas sama sekali? Yang ga pernah berdosa dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan seumur hidupnya? Kayaknya sih ga ada ya, kecuali Tuhan Yesus. Minimal satu dua hal pasti pernah lah. Hehe. 

Tapi berita luar biasanya adalah bahwa kita dilayakkan sama Tuhan Yesus. Semua dosa dan kesalahan kita udah ditebus dan kita dikuduskan dengan darah-Nya, sehingga kita jadi bersih lagi di hadapan-Nya. Luar biasa banget ya? Apapun yang kita lakukan di masa lalu, Tuhan ampuni ketika kita benar-benar bertobat dan meninggalkan dosa. 

Jadi kalo kita ngerasa udah terlambat, udah berdosa, biarlah Yesus yang membersihkan kita yang kotor ini, melayakkan kita yang ga layak ini, mengangkat kita yang hina ini. Akuilah dosa kita dan minta ampunlah dengan tulus, dan jangan diulangi lagi. Kita emang udah berbuat kesalahan, pelajarilah pelajaran yang berharga itu, tetapi jangan terus memukuli diri dengan tuduhan. 

Yeremia 31:34 berkata “… sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka”. Tinggalkan dosa itu dan terima pembebasan dari belenggu dosa. Kita udah dibayar lunas dengan darah Yesus di kayu salib, jangan jadi tawanan dosa lagi. Terimalah kasih karunia Kristus untuk awal yang baru. 

Meninggalkan Dosa 

Sekarang setelah kita mengakui dosa dan terima pengampunan, jangan dipake sebagai suatu kesempatan untuk terus menerus di dalam dosa atau terbuka pada pencobaan loh. Godaan pasti banyak, tapi terus fokus, arahkan pandangan pada Yesus yang dengan darah-Nya udah membersihkan kita, akankah kita mengotorinya lagi? 

Biasanya kita udah bertekad ga mau, tapi ketika buka celah sedikit, kompromi sedikit, jadi terulang lagi. Berarti, kita ga cuma harus komitmen ga mengulangi dosa yang sama, tapi juga komitmen untuk ga berkompromi dengan hal-hal yang bisa mengarahkan kita ke dosa itu. 

Contoh: Dosa yang ditinggalkan adalah seks bebas.

Berarti bukan cuma harus menghindari berduaan sama cowok di ranjang, tapi juga semua aktifitas fisik yang bisa bikin kita turned on, berduaan di tempat sepi, semua bacaan yang menjurus, obrolan yang bikin kepikiran tentang itu, film-film dengan adegan panas, dan hal-hal lain yang kita rasa bisa jadi celah. 

Tingkat kesulitan ini bisa beda-beda buat tiap orang. Misalnya pengalaman kita jatuh dalam dosa ini adalah karena kebablasan saat pacaran, lalu sekarang putus dan kita nyesel. Saking nyeselnya sampe ga mau lagi deh mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Mungkin bisa lebih mudah untuk menghindarkan diri dari situasi-situasi yang mengarah kesitu. 

Sebaliknya, akan jadi lebih sulit untuk orang-orang yang emang jatuh ke dosa ini karena udah ngelakuin beberapa kali dan sangat menikmatinya. Lalu ketika mereka bikin keputusan untuk meninggalkannya, bakal lebih berat karena daging dan sebagian jiwa mereka “pengen lagi”. Seperti udah dijelasin sebelumnya di Wanita yang Murni, seks itu kaya candu. Dan ketika turned on, pikiran kita akan mencari-cari cara untuk kompromi. 

Oleh karena itu, kenapa kita bener-bener ga boleh kompromi kaya, “Ah gw ga bakal melakukan itu lagi dengan pria lain, tapi gw mo nonton bokep aja.” Itu artinya kita lagi menggali lubang dimana kita akan jatuh lagi. Dosa seksual itu paling susah diberantas, dari jaman dulu sampe sekarang, dosa seksual paling banyak menjerat anak-anak Tuhan. 

Dosa seksual alias perzinahan dan percabulan itu bukan sebatas berhubungan dengan orang yang salah di waktu yang salah lho. Tapi juga penyimpangan seksual dan solo seks (masturbasi atau onani), juga ketika kita berzinah dengan pikiran kita. Ga cuma pria, tapi wanita juga banyak yang bergumul dengan masalah ini. Jadi gw akan coba share di Burning the Snare ya, kalo kita adalah salah satu dari wanita tersebut, bisa dibaca. Hehe. 

Melepaskan Pengampunan 

Inget ga, Matius 6:15 berkata, “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. Intinya, di balik dosa seksual itu kita pasti punya cerita sendiri. Misalnya dipaksa pacar kita sampe kita mau, dan akhirnya setelah terjadi, dia ninggalin kita dan kita jadi kepahitan sama dia. Berarti ada yang perlu kita bereskan. Emosi dan kebencian kita sama cowok itu harus kita bereskan sama Yesus. 

Atau mungkin pas melakukannya sih suka sama suka, tapi ternyata dia selingkuh di kemudian hari dan kita benci banget sama dia, semua yang kaya gitu harus diberesin sama Tuhan. Jangan simpen lagi dendam dan kepahitan itu, karena kita ga akan terbebas dari rasa sakit kalo kita masih terus simpen itu. Menyimpan kebencian itu kaya memegang bara. Kita mau lempar bara itu ke orang, tapi ketika kita genggam, tangan kita udah kebakar duluan. Forgive and let it go, accept God’s grace and freedom for you

Kalo kita emang udah kecepetan buka hadiah kita, terimalah pengampunan Allah dan tolak perasaan diri seperti barang yang rusak. Allah memiliki hal-hal yang baik tersimpan bagi kita. Kita, Wanita dalam Penantian, adalah harta. Tetap fokus sama Tuhan dan muliakan Dia dalam hidup kita ya. Tuhan memberkati. 

Suggested Reading: 


Gw suka banget judulnya, jadi pake di judul post ini juga. Hehe. 

P.S. Karena bagian ini dikit banget di buku Lady in Waiting, jadi gw pake kerangkanya tapi gw kembangin sendiri berdasarkan apa yang gw tau. Jangan kaget kalo tar baca bukunya ternyata ga sepanjang post gw. Haha. Di Bab 6 ini bukannya ngerangkum tapi malah ngembangin isinya sampe jadi 8 post terpisah. Keasikan riset dan cari informasi lalu ngerasa banyak banget yang penting dan perlu di-share. Haha. 

Gw juga jadi nulis tentang Burning the Snare walopun di buku itu ga di bahas, karena menurut gw jadi Wanita yang Murni bukan cuma soal ga berhubungan seks secara fisik, tapi juga termasuk menjaga kemurnian pikiran kita dari hal-hal yang ga kudus. Buat post yang ini acuannya adalah buku Joshua Harris yang judulnya Sex is not the problem, Lust is.

No comments:

Post a Comment