Pages

Saturday, January 26, 2013

WANITA YANG MURNI

Halo! Sekarang kita mo belajar bagaimana menjadi wanita yang murni, dari Bab 6 buku Lady in Waiting. Di Bab 5, masih inget kan pelajaran tentang wanita yang penuh pengabdian? Gimana petualangan baca surat cinta dari Bapa terkasih kita? Dalam surat cinta itu, pasti kita menemukan kalo salah satu kehendak Tuhan buat para putri kesayangannya adalah menjaga kekudusan. Kenapa sih kita harus melakukan itu? Apa pentingnya sih menjadi wanita yang murni?

Pada saat kita sedang menjalin hubungan, pasti banyak cara yang kita gunakan untuk mengekspresikan perasaan kita. Apalagi waktu lagi dimabuk cinta, rasanya ga ada salahnya saling menyayangi dan saling menyentuh. Kan itu ekspresi kasih? Toh, ga sampe ML. Kita pasti bisa ngontrol supaya ga sampe situ lah. Kita juga rencananya mau save sex until marriage. Benarkah demikian?


Disini ada satu kisah nyata tentang pasangan muda-mudi Kristen yang aktif di gereja. Mereka tentu menjaga batasan hubungan mereka. Tapi lama kelamaan, si cowok kaya menjauh sedikit. Si cewek merasa takut kehilangan, dia mikir, “Mungkin gw terlalu kuno dengan batasan-batasan gw. Kayanya klo ciuman gpp lah, kan ga sampe ML.” Akhirnya dia berkompromi sedikit. Pelukan, ciuman, mulai loyal diberikan. Tapi ketika si cewek merasa agak jauh lagi, dia takut kehilangan lagi. Dia kompromi lagi, mereka mulai terlibat aktifitas fisik yang lebih jauh. Sampai suatu hari, dia kasih keperawanannya ke cowok itu. Setelah itu, cowok itu jadi dingin, dan akhirnya bener-bener menjauh. Si cewek bener-bener nyesel dan pengen ambil lagi “hadiah” yang udah dia kasih, tapi ga bisa. Hadiah itu bisa dibungkus ulang dan diberikan lagi, tapi bukan untuk pertama kali.

Kisah ini ga cuma terjadi sama cewek di atas tadi. Ada banyak sekali wanita muda di luar sana yang ingin melakukan apa yang benar, tapi akhirnya malah menyerahkan hadiah kemurnian fisik mereka sebelum waktunya, pada orang yang salah pula. Seks adalah sesuatu yang indah yang diciptakan Allah, untuk dilakukan dengan orang yang tepat (yaitu suami kita) dan pada waktu yang tepat (setelah diberkati dalam pernikahan kudus). Itu bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi ditunggu. Seks seharusnya adalah sesuatu yang indah dan berkenan bagi Tuhan, tetapi menjadi dosa yang menjijikan bagi Tuhan ketika kita melanggarnya.

Gimana kalo kita taat? Coba tanya sama para wanita yang menunggu. Mereka pasti akan cerita dengan mata berbinar-binar bahwa hal itu layak ditunggu. Semuanya setimpal dengan apa yang mereka dapatkan. Keintiman pernikahan mereka terjaga, dan romantismenya menyala-nyala (contoh nyata di depan mata gw, Mam Anik sama Om Heri). Intinya, ga akan rugi deh kalo nunggu sampe pernikahan. Worth the wait! Coba bayangin pada saat kita bertemu dengan pria idaman dan akhirnya menikah, saat pemberkatan kudus di hadapan Tuhan, kita dan suami kita bisa memandang Tuhan tanpa rasa bersalah, yang ada malah rasa syukur karena udah menjaga kemurnian dan menghormati Tuhan. Pasti rasanya syahdu banget deh.

Sayangnya, seperti Hawa yang ditipu iblis, banyak di antara para wanita yang juga berpikir kalau Allah hanya ingin merusak kesenangan kita dengan melarang seks bebas. Padahal Dia minta kita menunggu bukan karena ingin merampas kesenangan kita, tapi justru Dia ingin melindungi kita dari 4 konsekuensi yaitu fisik, emosi, relasi, dan rohani. (Klik link untuk penjelasan lebih lanjut).

Menjaga Kemurnian

Lalu, setelah tau konsekuensi-konsekuensi tersebut, bagaimana cara kita menjaga kemurnian? Baca di Purity: How to Guard Ourselves?

Lalu gimana kalo udah terlambat? Nanti gw akan tulis tentang Rewrapping the Gift ya. Sengaja dipisahin soalnya kalo dijadiin satu post bakal kepanjangan, dan ada banyak tambahan penting disana.

Next: Wanita yang Memiliki Rasa Aman

PURITY: HOW TO GUARD OURSELVES?


Post ini adalah lanjutan dari Bab 6 buku Lady in Waiting: Wanita yang Murni

Bagaimana cara menjaga kemurnian dalam menjalin hubungan?

1. Jangan terlalu mudah menyerahkan hatimu

Biasanya nih, cowok gampang banget bilang I love you. Lalu biasanya juga, cewek gampang banget luluh sama kata-kata itu. Hahaha. Rasanya klo udah denger itu, berasa disayang banget dan jadi rela melakukan apa aja. Nah girls, kita harus punya kunci buat hati kita nih. Karena klo gampang kita kasih ke orang dan oleh orang itu dipatahin, dan berulang begitu terus, mo berapa kali hati kita patah dan hancur? Nanti babak belur penyok-penyok donk? Ini bukan berarti setiap kita menjalin hubungan jadi kaya robot, ga berperasaan dan mati rasa loh ya. Tapi kita bener-bener ga membiarkan nafsu dan fantasi kita menjadi liar ga terkendali.


Jadi kita kan punya kunci tuh, berikan kunci itu sama Tuhan Yesus. Soalnya kan Dia adalah satu-satunya Pribadi yang bakal jagain hati kita sebaik-baiknya deh. Mana mungkin Bapa di Surga ngebiarin hati Putri-Nya dipatahin sembarangan? Kalo kita membiarkan Dia yang pegang kunci dan jaga hati kita, udah pasti aman donk? Ada satu quote yang bagus banget deh. 

“A woman’s heart should be so hidden in Christ that a man should seek Him just to find her.” ―Maya Angelou

Jadi pria yang emang menginginkan hati kita pertama harus minta kunci itu sama Yesus. Dan emang ini berlaku dengan ayah kandung kita juga. Ayah kita kan memegang otoritas di dunia, makanya klo seorang pria mau menikahi wanita dia meminta tangannya dari ayah si wanita itu kan. Lalu baca God's Message to all Girls deh. Bagus banget, intinya pada saat pangeran itu datang, dia harus meminta kita dari sang Raja. 

Gimana caranya menyerahkan kunci itu ke Yesus? Libatkan dia dalam segala aspek kehidupan, termasuk cerita cintamu. Sebagai penulis kisah cinta paling romantis, rancangan Allah jauh lebih baik daripada penulis skenario film Hollywood atau drama Korea. Haha. Jadi misalnya kita lagi deket sama cowok, doakan. Jangan membiarkan perasaan kita berlarut-larut dan mikir, “ya udah jalanin dulu aja”. Duh, nanti kalo udah terlanjur cinta dan kebawa perasaan, jadi makin susah dan ga peka loh buat tau apa yang Tuhan mau. Fokuslah pada persahabatan, jangan pada api cinta yang menggelora. Itu ada waktunya nanti, tapi dalam masa pengenalan, fokusnya jangan sampai salah. Sebelum pergi bareng, berdoalah. Pulang pun, berdoalah. Intinya benar-benar biarin Tuhan jaga hati kita sebelum kita kasih “perasaan tulus sepenuh hati” yang bisa jadi ke orang yang ga tepat.

Kita juga perlu menetapkan standar-standar buat jadi acuan kita, misalnya akan menjalin hubungan lebih lanjut hanya dengan pengikut Kristus yang bertumbuh. Ini penting loh girls, secara tujuan kita pacaran kan harapannya berujung di pernikahan. 

2. Simpan ciumanmu untuk suami masa depanmu

Emang terdengar radikal sih, tapi coba kita simak dulu. Pertama, ciuman bibir bukan untuk sembarangan diberikan pada banyak pria. Ciuman itu sesuatu yang spesial. Ciuman juga bukan cara nunjukkin terima kasih. Ada penelitian yang melaporkan bahwa 90% orang dapat mengingat pengalaman ciuman pertamanya, jadi emang dampaknya sangat besar. Bibir adalah bagian tubuh kita yang sangat sensitif, dengan reaksi terhadap panas, dingin, lembut, kasar, dsb. Reaksi syaraf ini juga mengaktifkan perasaan dekat dan keterikatan karena merangsang chemical di otak yang bernama oxytocin.

Oxytocin ini adalah chemical yang biasa disebut cuddling hormone. Ini adalah chemical yang bersifat mengikat yang menciptakan perasaan peduli. Tuhan menciptakan hormon ini sebagai lem perekat manusia. Contohnya, hormon ini ada ketika seorang ibu menyusui bayinya sehingga terciptalah ikatan yang berarti, “Kita akan selalu bersama, kita tidak terpisahkan.” Waktu lain ketika hormon ini bekerja adalah ketika terjadi kontak fisik yang intim.


Nah, apalagi kita para cewek. Kita ga bisa ciuman tanpa ikatan emosional. Sayangnya, jaman sekarang film-film Hollywood mempresentasikan ciuman sebagai sesuatu yang murah. Diberikan di hari pertama kencan, bahkan sebelum pacaran. Lalu kalo udah punya pacar tetep gampang ciuman sama orang lain. Tapi karena kita orang Indonesia, mungkin keadaannya belom sampe kaya gitu ya, A BIG NO NO, jangan dilakukan. Hehe. Sekarang kita bahas yang ada di budaya kita aja. 

Kita ga lagi bahas ciuman sebelum menikah itu dosa atau enggak. Tapi kita lagi bahas apa yang kita lakukan, apakah menyenangkan Tuhan atau enggak? Pertama, kalo kita pacaran dan dengan ciuman dan aktifitas fisik kita jadi melanggar firman Tuhan, otomatis ga menyenangkan Tuhan, dan pastinya jadi lebih susah move on. Yang ga aktifitas fisik aja udah susah ya move on-nya, apalagi yang pake kissing, hugging, and touching. Ya kan? Selain Allah yang berusaha melindungi hati kita, pilihan-pilihan kita juga dapat melindungi diri kita.

Lebih jauh lagi, ciuman merangsang tubuh untuk melakukan lebih. Ibaratnya kado yang dibahas di atas, ciuman ini artinya kita udah bermain-main dengan pitanya. Sekali ketarik, terbukalah bungkusannya. Lebih susah buat bilang NO ketika nafsu lagi membara, kan? Baca lebih lengkap di Save Your Kiss. Lalu gimana donk? Masa pacaran ga boleh cium-ciuman? Baca lebih lanjut tentang batasan fisik di bawah ini ya. 

3. Buat batasan-batasan, terlebih bagi yang sedang menjalin hubungan

Pertama, Batasan Fisik (klik link)

Kedua, Batasan Emosi (klik link)

Lalu pesan yang paling penting adalah: Jangan menyusun standar ini “sambil jalan”. Emosi bisa sangat menipu. Kita harus membuat pilihan-pilihan bijaksana sebelum “debaran” dan “detakan jantung” menjadi begitu keras sehingga kita tidak dapat mendengar diri kita sendiri berpikir. Tuliskanlah standar itu dan seringlah membacanya. Berjanjilah di hadapan Allah secara rutin dalam doa. 

Berjaga-jagalah waktu denger kata-kata manis kaya:

“Kalo sayang sama aku…”
“Aku ga pernah ngerasain ini sebelumnya…”
“Coba satu kali aja…”
“Toh kita pasti akhirnya nikah juga…”
“Kalo ga latihan sekarang nanti pas nikah ga siap…”
“Orang lain juga ngelakuin ini…” 

Oleh karena itu, saran gw supaya ga terjebak dengan situasi menggoda seperti ini adalah, bersahabatlah dalam komunitas. Kalo jalan, jangan berduaan tapi rame-rame sama temen-temen. Dengan keluar bareng, jadi bisa keliatan karakternya, gimana cara dia memperlakukan orang. Kalo lagi berduaan mah, udah pasti semua yang ditunjukkin yang baik-baik. Beraktifitas dalam kelompok juga menjaga kemurnian, tetapi tidak membatasi komunikasi dan persahabatan. 

Lah, kalo keluarnya bareng-bareng terus kapan bisa ngobrol berdua dan mengenal lebih dalam? Nah, kalo udah sering keluar rame-rame dan udah keliatan karakternya, lalu ngerasa perlu waktu berduaan, pilihlah pas masih ada matahari dan di tempat umum. Kaya di taman, tapi di tempat terbuka bukan di balik semak-semak ya haha. 

Kalo si cowok lebih milih berduaan di mobil malem-malem buat aktifitas fisik, atau ngajak ke tempat sepi dan melontarkan kata-kata di atas, periksa ulang deh. Pria yang saleh ga akan menekan wanita secara verbal, melainkan mengasihi si wanita dengan mengantarnya pulang sebelum mereka harus menyesal karena melanggar kemurnian mereka. 


Joshua Harris memilih untuk ga berbaring di samping Shannon, walaupun itu siang bolong, karena Josh takut pikirannya nanti malah ga menghormati Shannon. Josh ga mau mendukakan Tuhan. Mereka udah bertunangan, tapi tetep aja, mereka belom nikah. Dia menyayangi Shannon dan karena itu dia bangkit dan pindah. 

Lalu gw ada baca cerita lain lagi di SINI, ketika si cewek akhirnya ngerasa bertemu dengan cowok yang klik sama dia. Pada suatu malem, abis keluar yang kedua kali si cewek udah mulai ngerasa ga enak. Gimana kalo nanti cowok ini mo cium dia? Padahal si cewek ini udah bertekad mau save kiss for wedding day. Lalu bener, ketika cowok itu mulai mencondongkan tubuh, dia dengan cepat berkata, “Gw cuma mau ciuman sama orang yang jadi suami gw.” Si cowok sampe kaget dan tanya, “Apa?” Haha. Tapi akhirnya cowok itu menghormati keputusan si cewek untuk menghargai dirinya sendiri. Lalu akhirnya mereka berujung ke pernikahan dan they have their first kiss on their wedding day. 

Jelas kan girls? Kalo cowok itu benar-benar mengasihimu, bukan “bernafsu padamu”, dia ga akan memintamu melanggar kemurnianmu. Ingatlah, ketika kita memilih suami, kita bukan cuma milih pasangan hidup buat diri kita, tapi juga ayah buat anak-anak kita. Be wise.

Lalu gimana kalo udah terlambat? Nanti akan ditulis judulnya Rewrapping the Gift. Sengaja dipisahin soalnya kalo dijadiin satu post bakal kepanjangan, dan ada banyak tambahan penting disana.

How do we want our air? Pure. How do we want our water? Pure. How do we want sex on our wedding night? Pure. —Molly Kelly 

EMOTIONAL BOUNDARIES IN RELATIONSHIP

Sekarang yuk kita belajar tentang batasan emosi dalam pacaran (atau we better say that courtship). Ditulis sebagai bagian dari post yang judulnya Wanita yang Murni, bagian Purity: How to Guard Ourselves? Jangan ngerasa ini sebagai setumpuk peraturan yang berat dan membebani ya. Ini semua berguna buat melindungi diri kita sendiri kok, dan juga pasangan kita (pesannya sama kaya Batasan Fisik haha).

Nah, kalo batasan fisik mungkin udah pada tau ya, sering dibahas dalam Love, Sex, and Dating KKR. Bagaimana dengan batasan emosi? Bisa dibaca dengan lengkap di sini: Batasan Emosi dalam Pacaran dan Emotional Dependency.

Gimana? Dijelaskan secara gamblang dan tepat sasaran kan? Hehe. Lalu gw juga dapet artikel bagus banget dari website Susie Magazine, topiknya tentang Pure in Heart, please visit ya. Gw akan translate dan rangkum yang penting disini (warna ungu berarti tulisan gw).


Pertama kali Claire jatuh cinta dia berusia 17 tahun. Dia bertemu dengan Carter di acara retret. Carter ini orangnya asik, seru, dan cinta Tuhan. Kemurnian sangat penting bagi Claire, jadi dia membuat komitmen untuk tetap murni dalam hubungan mereka. Selama 3 tahun hubungannya, dia sama sekali ga pernah terpikir tentang kemurnian emosi. Mungkin kalo dia memikirkannya, dia ga akan berakhir dengan sebuah hati yang patah.

Ketika bicara soal kekudusan, biasanya hal itu berhubungan dengan kekudusan fisik atau kekudusan seksual. Banyak remaja yang berkomitmen untuk kekudusan itu, dan pake cincin atau kalung yang ada tulisan "True Love Waits" yang sangat terkenal di kalangan anak muda. Bahkan selebriti kaya Jonas Brothers dan Hilary Duff juga make itu. Tapi bagaimana dengan kemurnian emosi dalam hubungan? Itu penting juga ga sih? Apakah Tuhan pernah membahas itu dalam firman-Nya?

Cek yuk!

Matius 5:8 berkata, "Berbahagialah orang yang suci (murni) hatinya, karena mereka akan melihat Allah." Apa yang dimaksud dengan "suci hatinya"? Untuk mengerti ayat ini kita perlu mengerti kata "hati". Di Alkitab, hari mewakili tiga hal: pikiran, kehendak, dan emosi. Dari sinilah datangnya istilah kekudusan emosi. Tuhan ingin kita kudus dalam emosi kita. Darimana kita mulai kalau bukan dari hubungan kita? Apa yang lebih emosional daripada berhubungan dengan seorang cowok? Hehe.

Nah waktu Claire jatuh cinta sama Carter, dia menetapkan batasan fisik yang jelas buat hubungan mereka, tapi dia ga netapin batasan emosi apapun. Dia bener-bener memberi hatinya, membagi semua pikiran dan perasaannya pada cowok itu.

Semua ini emang gampang dilakukan begitu hubungan dimulai karena semuanya baru dan menyenangkan. Tapi kalo kita pengen menjaga kemurnian hati kita, kita perlu tanya sama diri sendiri, "Apa sih motivasi kita mencurahkan semua pikiran dan perasaan terdalam kita ke orang ini?"

Kalo motivasi kita adalah untuk menuju jenjang yang lebih jauh dalam hubungan sebelum kita merasa siap, atau untuk mencari penerimaan diri dalam kasih sayang seorang pria, mencurahkan seluruh hati kita bukanlah cara terbaik.

Dalam situasinya Claire, motivasinya berasal dari perasaan ga aman mengenai nilai dan identitas dirinya, yang  ga dibawa ke hadapan Tuhan. Ketika Carter mengakhiri hubungan itu, hatinya jadi hancur karena dia tidak menjaganya selama hubungan itu.

Kita bisa menjaga hati kita!

Amsal 4:23 berkata, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Tuhan tau hati kita itu rapuh, makanya Dia meminta kita menjaganya, dan memastikannya tetap murni. Ada banyak cara untuk menetapkan batasan-batasan kekudusan emosi dalam hubungan kita, yang dapat menyelamatkan kita dari patah hati seperti yang dialami Claire.

1. Kesabaran: Jangan terlalu jauh, terlalu cepat.

Walaupun biasanya frase "terlalu jauh, terlalu cepat" ini mengacu pada aspek fisik dalam suatu hubungan, kata-kata ini juga bisa diaplikasikan pada aspek emosional. 

Kalo kita mencurahkan hati terlalu cepat, kemungkinan besar kita jadi tergoda buat "memberikan" fisik terlalu cepat juga. Jadi cobalah untuk menahannya- apalagi kalo motivasi kita datang dari ketidakamanan atau ketidaksabaran.

Dalam kasus Carter dan Claire, Claire terlalu terburu-buru karena dia ga sabar dan pengen mengendalikan hubungan itu, bukannya mempercayakan Tuhan untuk pegang kendali. Ada bagian dalam dirinya yang meragukan apa Carter adalah "the one" dari Tuhan, tapi dia cuekin perasaan itu dan malah jadi lebih terburu-buru buat "berhubungan lebih jauh (secara emosi)" karena perasaan itu.

2. Kepercayaan yang terus bertumbuh: Ungkapkan lebih banyak ketika kepercayaan semakin besar.

Menumbuhkan kepercayaan memerlukan waktu, dan kita bisa mengasihi orang tanpa sepenuhnya mempercayainya. Jadi saat bertumbuh dalam sebuah hubungan, ingatlah walaupun kita merasa sangat mencintai seseorang, tapi bukan berarti kita harus mempercayainya 100%. Kepercayaan memerlukan waktu, apa yang dia katakan dan apa yang dia lakukan akan menjadi bukti apakah dia bisa dipercaya. Bukan berarti kita ga boleh mempercayai orang sama sekali. Justru kita harus mempercayai pasangan kita, karena pasti rasanya terluka banget kalo ga dipercaya. Tapi kepercayaan kita harus bisa punya ruang untuk bertumbuh. Kalo kita begitu kenal atau jadian langsung percaya 100%, akibatnya bisa fatal. Kalo kita baru kasih 50%, lama kelamaan seiring waktu itu akan bertumbuh dan kita bisa liat dia orang yang bisa dipercaya apa enggak.

Kita bisa mengenal karakternya dari gimana dia bicara dan melakukan apa yang dia bicarakan. Ketika kepercayaan mulai tumbuh, kita bisa mengungkapkan lebih banyak yang ada dalam hati kitapemikiran kita, perasaan kita, mimpi-mimpi kita, dan merasa aman karena dia bisa dipercaya.

3. Tersembunyi dalam Tuhan: Mengejar Tuhan saat sedang dikejar.

"Hati seorang wanita haruslah sedemikian tersembunyi dalam Tuhan sehingga seorang pria harus mencarinya untuk menemukan wanita tersebut.Maya Angelou

Kutipan ini menekankan bahwa hal paling penting untuk menjadi kudus secara emosi adalah dengan menyembunyikan hati kita dalam Tuhan. Tapi apa sih maksudnya menyembunyikan hati dalam Tuhan? Itu artinya prioritas utama kitatujuan utama kitaadalah untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Artinya kita meletakkan pengharapan, mimpi, ketakutan, dan keraguan kita pada-Nya. Jadi kita berpaling pada Tuhan untuk mendapatkan kenyamanan, kepastian, rasa aman dan tujuan kita sebelum berpaling pada yang lainnya.

Dengan melakukan ini, kita benar-benar menjaga hati kita. Tuhan mengasihi kita lebih dari pria manapun bisa mengasihi kita. Dia ingin menguatkan kita, dengan kebenaran dalam hidup kitaFirman-Nya akan menguatkan dan melindungi hati kita.

Mazmur 73:26 berkata, "Sekalipun daging dan hatiku lenyap, tapi Tuhan adalah kekuatan hatiku dan bagianku selamanya."

Tuhan menginginkan yang terbaik bagi kita.

Tuhan ingin kita kudus secara emosi karena Dia tidak ingin kita terluka. Tapi kadang kita gagal, dan hati kita patah seperti yang dialami Claire. Ketahuilah bahwa Tuhan bisa menyembuhkan hati kita yang patah dan menguatkannya lagi setelah kita menyerahkan hati kita pada-Nya.

Dua tahun setelah hubungan Claire dengan Carter berakhir, dia bertemu dengan Jack. Jack adalah pria saleh yang mengejar Claire dan memperlakukannya seperti putri. Tapi Claire tidak buru-buru kali ini, dan karena hatinya begitu tersembunyi dalam Tuhan, Jack harus mengejar Tuhan untuk memenangkan hati-Nya. Ini bukan berarti Jack mencari Tuhan cuma buat dapetin Claire ya, tapi maksudnya justru pria yang begitu mengejar Tuhan-lah yang bisa menemukan hati Claire di situ. Perumpamaannya begini: 

Bayangin seorang putri yang tinggal di kastil terpencil. Dia menyembunyikan sebuah kotak di dalam hutan belantara tempat dimana dia mendapat ketenangan. Dia sangat suka sama tempat itu, berharap ada yang mengenal dan menyayangi tempat itu seperti dia. Lalu ada pangeran dari negeri seberang yang mau mendapatkan putri itu. Nah, namanya aja tersembunyi, tentu pangeran itu ga tau donk klo ada kotak di dalam hutan belantara. 

Beda sama Pangeran satu lagi yang tinggalnya memang di dalam hutan itu. Karena setiap hari disana, mengenal betul hutan itu luar dan dalam, dia menemukan kotak itu. Pada akhirnya saat bertemu sang Putri, mereka jatuh cinta dan sang Pangeran menyerahkan kotak itu. Sang Putri jadi tau ternyata Pangeran yang satu ini menyayangi dan merawat hutan tersebut dengan baik, mengenalnya luar dalam sampai-sampai dia bisa menemukan "harta tersembunyi" sang Putri. Dia pasti orang yang tepat untuk mendampingi sang Putri. Lalu mereka menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. Hahaha.

Cukup jelas ga metafora-nya? Jadi saking tersembunyinya hati kita dalam Kristus, hanya pria yang benar-benar di dalam Kristus yang bisa menemukannya. Bukan sengaja nyari Kristus cuma supaya bisa dapetin cewek. Misalnya nih Jack ngejar Claire. Lalu karena Claire aktif di gereja, Jack pura-pura aktif juga di gereja, biar dapet kesempatan ngobrol, padahal dalam hatinya sama sekali bukan pengen cari Tuhan. Para cowok, hindari manipulasi macam begini ya, kalo niat cari Tuhan harus tulus. Hehe. 

Nah, tapi beda lagi kalo Jack jadi benar-benar mengalami Tuhan dan ingin lebih dekat dengan Tuhan karena dia melihat Claire punya sukacita dan damai sejahtera, misalnya. Dia yang awalnya ga kenal Kristus jadi  pengen mencari Kristus dan sungguh-sungguh akhirnya mengasihi Kristus. Itu berita bahagia. Hoho.

Jadi emang semuanya balik lagi ke hati sih. Tuhan kan menyelidiki hati. Sesuai dengan topik post ini, Pure in Heart. Jadi baik cewek maupun cowok harus sama-sama pure in heart.

Jangan lupa, dalam hubungan pun, Tuhan harus tetap nomor satu.

PHYSICAL BOUNDARIES IN RELATIONSHIP

Mari kita belajar tentang batasan fisik dalam pacaran (atau we better say that courtship). Ditulis sebagai bagian dari post yang judulnya Wanita yang Murni, bagian Purity: How to Guard Ourselves? Jangan ngerasa ini sebagai setumpuk peraturan yang berat dan membebani ya. Ini semua berguna buat melindungi diri kita sendiri kok, dan juga pasangan kita. 

Kenapa sih batasan fisik penting? Kenapa butuh pagar yang membatasi? Supaya ga kebablasan. Supaya kalo jalanannya licin ga terpeselet dan meluncur lalu bablas. Sebagai manusia yang hidup masih dalam daging, sentuhan sedikit aja udah bisa membangkitkan nafsu. Area ini bukan untuk kompromi, jadi itulah gunanya kita menetapkan batasan-batasan untuk saling melindungi satu sama lain.

Di bukunya yang berjudul Boy Meets Girl, Joshua Harris cerita gimana dia bikin batasan sama Shannon (istrinya sekarang) pas masa-masa mereka menjalin hubungan, supaya mereka tetap dapat menjaga kemurnian. Contohnya kaya di bawah ini: 

Kami tidak akan saling pegang-pegang, artinya kami tidak boleh:
  • mengusap-usap punggung, leher, atau lengannya
  • menyentuh atau membelai mukanya
  • memainkan rambutnya
  • menggaruk lengan atau punggunggnya

Kami tidak akan berdekapan, maksudnya:
  • tidak duduk berdempetan di sofa, menonton film
  • tidak bersandar di pundaknya
  • tidak berbaring bersebelahan
  • tidak main gelut-gelutan (cuddling)
Kami akan menjaga pembicaraan dan pikiran kami, maksudnya:
  • tidak membicarakan hubungan fisik di masa depan
  • tidak memikirkan apa yang bisa menjadi dosa sekarang ini
  • tidak membaca (sebelum waktunya) bacaan tentang hubungan intim dalam pernikahan
  • Kami tidak akan berduaan ketika hari sudah larut malam.

Ekspresi fisik yang masih pantas:
  • berpegangan tangan
  • Josh menaruh lengannya di pundak Shannon
  • Bersentuhan pipi sejenak.

Nah, ini bukan rumus atau formula saklek yang harus disalin mentah-mentah. Batasan ini dibuat oleh masing-masing pribadi atau pasangan, sesuai dengan keadaan mereka sendiri. Ada pendeta yang bikin aturan sama pacarnya (sebelum mereka menikah) kalo mereka boleh ciuman bibir tapi cuma dengan mempertemukan bibir ga lebih dari 3 detik, karena kalo lebih lama atau melibatkan lidah takutnya mereka kebablasan. Ada yang lebih memilih buat sama sekali ga ciuman karena takut ga bisa ngontrol. Kalo mama rohani gw malah bilang sekalian ga usah cium pipi soalnya pipi tuh empuk, jadi bikin nafsu, kalo mau cium kening aja, keras. Hahaha. 

Ada yang menganggap pelukan ga masalah karena itu ekspresi kasih. Ada yang menghindari itu dalam hubungan mereka karena ketika pelukan kan dada cewek pasti nempel ke dada cowok, dan itu bisa aja bikin si cowok jadi bernafsu. Ada yang dengan rangkulan atau pelukan aja udah terangsang. Ada yang cuma pegangan tangan aja, cowoknya jadi berpikiran yang enggak-enggak dan akhirnya si cowok memilih buat ga pegangan tangan sama sekali buat melindungi ceweknya (wise choice!).

Jadi itu semua tergantung diri kita sendiri. Orang yang ga pegangan tangan bukan berarti lebih murni dari yang pelukan. Bisa aja yang pelukan emang ga mikir macem-macem. Jadi ga bisa di jadiin tolak ukur. Namun selalu ingat setiap kita melakukan apapun: Apakah itu menyenangkan Tuhan? Apakah itu pantas? Apakah itu menghormati pasangan kita? Apakah kita jadi melanggar firman saat melakukan itu? Apakah itu berguna? Apakah kita jadi batu sandungan karena melakukan itu? Ingat, mengekspresikan kasih dan membangun hubungan tidak harus selalu lewat aktifitas fisik yang berlebihan.

Suggested reading (baca ya, bagus banget!):
1. Batasan Fisik dalam Pacaran by Grace Suryani
2. Batasan Fisik by Stephanie Gunawan
3. The Godly Girl's Guide

DAN Boy Meets Girl-nya Joshua Harris tentu saja!

Real intimacy, real love, comes from holy, chaste relationships. 
—Father Dave Pivonka 

SAVE YOUR KISS FOR WEDDING DAY

Pernah baca kalimat ini? Gw sering banget! Haha. Emang di kalangan orang Kristen banyak orang-orang atau pasangan yang pegang prinsip ini. Gw nulis ini buat penjelasan lebih lanjut di artikel Lady in Waiting Bab 5: Wanita yang Murni. Baca yang itu dulu ya, dan post yang judulnya Purity: How to Guard Ourselves?

Oke, jadi gini. Seperti yang udah gw tulis disana, kalo ciuman itu sesuatu yang sangat sangat spesial. Nah saking spesialnya, ada pasangan yang memilih untuk menyimpannya sampai hari pernikahan dimana mereka sah dan udah diberkati Tuhan jadi sepasang suami istri. Mereka ingin pada akhirnya ciuman itu jadi sesuatu yang bener-bener murni dan berkesan karena dilakukan di hadapan Tuhan. 

Ga semua orang bisa nerima prinsip ini, secara ini ga tertulis secara gamblang “ciuman adalah dosa” di Alkitab ya. Sekali lagi gw ingetin, kita ga lagi bahas ciuman itu dosa apa enggak kok. Semua itu balik lagi ke motivasi orang, jadi tulisan gw sama sekali ga menghakimi tentang ciuman dan juga bukan mengagung-agungkan orang yang simpen ciumannya untuk hari pernikahan. Gw cuma nulis ini buat berbagi sudut pandang yang gw dapet. 

Nah tadi gw baca artikel tentang orang yang ga setuju sama prinsip saving kiss ini. Ada beberapa alasan, dari yang paling sederhana kaya “Kalo lo suka sama cewek, ya lo cium dia,” lalu “Darimana lo bisa tau ada chemistry apa engga kalo ga ciuman?” atau “Kalo ga latihan nanti di wedding day jadi awkward,” sampe yang dalem kaya, “Orang-orang yang megang prinsip ga mo ciuman sampe nikah jadi memberhalakan peraturan tersebut. Dengan mereka ga ciuman mereka merasa udah murni, lebih murni dari orang yang ciuman.” 

Alasan-alasan di atas menggelitik buat dibahas satu-satu. 

Pertama: If you like a girl, you kiss her. 

Ini biasanya adalah nasehat para kakek untuk cucu laki-lakinya, atau ayah untuk anaknya. Maksudnya biar tumbuh jadi cowok jantan yang membuktikan cinta mereka gitu. Hehe. Budaya dan kebiasaan kita emang gitu sih, kalo suka tunjukkin donk, kalo ga ditunjukkin nanti ceweknya ga tau. Tapi nunjukkin kasih kan sebenernya ga harus lewat ciuman membara penuh nafsu kan? 


Personally, untuk sebelum nikah, gw menganggap ciuman tulus di kening lebih romantis dari ciuman bibir. Nunjukkin kasih bisa dengan banyak cara lain kaya mendengar, memberi perhatian, mendoakan, mendukung, dsb dst. Bahkan kalo orang yang bahasa kasihnya adalah sentuhan fisik, mereka tetap bisa menunjukkan dan merasakan kasih tanpa kompromi dengan kemurnian. Tepukan (bukan belaian ya) di punggung, di pundak, yang bikin mereka dikuatkan dan merasa dikasihi, bukan dibangkitkan nafsunya.

Kedua: Gimana bisa tau ada chemistry apa engga kalo ga pernah ciuman? 

Menurut deskripsi orang-orang ya, ketika ciuman itu rasanya kaya ada kembang api meledak-ledak di atas kepala kita. Haha. Jadi kalo kita ga pernah ciuman, gimana tau kita dapet chemistry semacem itu apa enggak? Gimana kalo tar udah nikah malah baru ketauan klo ternyata pas ciuman rasanya hambar. Ternyata ga ada chemistry antara satu sama lain. 

Kalo dalam pemikiran gw, bahkan gw yang belom pernah ngerasain kembang api meledak-ledak itu, namanya kita kalo jatuh cinta, saling mengasihi, menjalani masa-masa perkenalan melibatkan Tuhan, berusaha keras saling menjaga dan menahan nafsu, sampe waktu yang dinantikan tiba dan bersedia mengikat janji sehidup semati, mungkinkah pas ciuman ternyata ga ada chemistry? Simply impossible. 

Ketiga: Kalo ga latihan, nanti jadi awkward. 

Pertama, menurut gw ciuman itu natural. Kayak seks, Tuhan menciptakannya secara natural aja manusia ga usah diajarin lagi. Gw jadi inget pertanyaan temen-temen cowok ke mama rohani gw, "Mam, klo ga boleh nonton bokep, nanti pas malam pertama gimana, kan ga tau caranya?" Lalu Mam Anik jawab, "Emangnya Adam-Hawa dulu ada yang ngajarin?" Hehe. Jadi yang namanya ciuman mah semua orang pasti bisalah.

Soal awkward atau tidak, dimana-mana kalo melakukan sesuatu kan, semakin sering dilatih jadi semakin bagus. Practice makes perfect. Sama juga dengan ciuman. What makes someone a good kisser? Karena dia sering ciuman makanya jadi ahli kan? Lalu kita lebih memilih yang jadi ahli karena banyak latihannya sama kita atau sama orang lain? Hehe.

Kita punya banyak waktu setelah menikah buat latihan. Malah bikin tambah mesra kan kalo setelah nikah latihan ciuman terus hahaha. Ga perlu takut nanti pengalaman ciuman jadi ga hot kaya di film-film atau takut pasangan kita pencium yang buruk. Asal komunikasi, menurut gw semuanya bisa diatasi.

Keempat: Prinsip ga ciuman jadi berhala. 

Nah ini nih yang bakal panjang. Jangan sampe prinsip ini bikin: 

1. Kita memberhalakan prinsip tersebut
Yang kita fokuskan adalah kita ga boleh ciuman. Lalu seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat agung dan layak dipuja-puja, baik oleh kita maupun oleh orang. Kita berharap dapet pujian karena keputusan ini. Kita merasa dengan ini kita udah paling murni di hadapan Tuhan. Kita menganggap ini sebuah peraturan yang kalau tidak langgar berarti kita hebat. Motivasi kita bukanlah lagi murni untuk menyenangkan Tuhan dan menjauhi larangannya, tapi jadi bergeser. Motivasi-motivasi kaya gitu harus dicek lagi.

2. Kita menghakimi orang lain 
Terus dengan merasa paling suci, paling murni, kita jadi menghakimi orang lain yang ga memegang prinsip itu. Kita jadi ngerasa yang ciuman lebih berdosa dari kita, bahwa kita lebih baik dari mereka. Menghakimi mereka ga bisa nahan nafsu sedangkan kita bisa. Penghakiman macam apapun yang kita lakukan, semuanya ga berkenan di hadapan Tuhan, no matter how good we have tried to obey the rule.

3. Kita jadi batu sandungan buat orang lain
Dengan menghakimi, akhirnya kita jadi bikin orang skeptis sama kita. Dengan ngerasa sok suci dan sok murni itu orang jadi males pegang prinsip ini. Orang jadi ngerasa, "Ah gw ga mau ikut-ikutan kelompok freak yang sok suci itu." Ini berarti kita udah memberi gambaran yang salah tentang "menjaga kekudusan" kepada mereka.

Then How?

Tadi katanya banyak konsekuensi dari aktifitas fisik kaya ciuman, tapi ga boleh jadi batu sandungan buat orang lain, terus kalo temen kita ada yang gaya pacarannya kelewat batas gimana donk? Masa dibiarin aja? 

Pertama, berdoa. Kedua, liat apakah itu teman dekat atau bukan. Kalo emang teman dekat, cukup dekat untuk sharing soal hubungan dan pacaran, bisa diajak ngobrol. Ingat, berdoa minta hikmat supaya apa yang disampaikan tidak menghakimi dan membuatnya merasa tertuduh. Jangan malah kita yang menghakimi duluan. 

Kalo bukan temen deket, ya udah doakan aja biar ada orang lain yang lebih dekat dan berhak buat ngobrol sama dia, atau Tuhan bisa menegur langsung lewat cara lain (lewat buku misalnya, kaya gw ditegur abis-abisan lewat buku. Hehe). Kecuali kalo Tuhan bener-bener suruh kita yang ngomong ya, tapi ini perlu banyak komunikasi sama Tuhan biar peka. Banyak-banyak minta hikmat supaya buka ego dan arogansi kita yang ngontrol dan malah jadi batu sandungan.

Intinya, mau save ato enggak itu pilihan kita. Saving kiss ga membuat satu pasangan lebih suci daripada yang lain. Kalo saving kiss tapi pegang-pegang yang “lain” malah lebih parah donk. Tapi bukan berarti kita jadi bebas cium sana-sini juga kalo mau memuliakan Tuhan. Seperti yg gw bilang di post Batasan Fisik, semua tindakan kita tergantung motivasi dan tujuan kita. Sesederhana itu. Butuh banyak waktu berkomunikasi dengan Tuhan, hikmat, dan kerendahan hati buat tau apa yang harus kita lakukan dan yang tidak seharusnya kita lakukan.

P.S. Klo gw pribadi, gw merasa prinsip saving kiss ini melatih: Kesabaran dan Penguasaan Diri. 

Friday, January 25, 2013

SEX BEFORE MARRIAGE: THE CONSEQUENCES

Allah menciptakan seks untuk manusia. Tapi Allah dengan tegas melarang kita untuk melakukannya di waktu yang salah dan dengan orang yang salah. Kapan waktu yang tepat itu? Setelah diberkati dalam pernikahan kudus di hadapan Tuhan. Bukan saat pacaran, kencan, atau tunangan sekalipun, bahkan satu hari sebelum menikah juga bukan. Siapa orang yang tepat itu? Suami atau istri dengan siapa kita mengikat janji pernikahan yang kudus di hadapan Tuhan. Bukan suami orang lain, istri orang lain, atau lajang lain di luar sana. Lalu pertanyaannya adalah, kenapa harus menunggu? Kenapa ga boleh melakukan apa yang kita anggap menyenangkan? Apakah Allah ga suka liat kita senang? Salah besar. Jawabannya adalah justru karena Allah begitu menyayangi kita. Ada 4 aspek yang ingin Tuhan lindungi:


1. Fisik 

Coba bayangin, besok adalah hari Natal. Kado-kado udah siap di bawah pohon. Terus kita lagi ga sabar nih pengen tau kado kita apa. Akhirnya pas ga ada orang yang liat, kita diam-diam buka kado kita. Excited, pasti. Lalu kita bungkus lagi seperti sediakala. Besoknya, di saat semua orang lagi excited bukain kado mereka, apa yang kita rasakan? Rasa deg-degan dan girangnya kemana? Ga ada, udah ga menggetarkan dan menggairahkan lagi. Kertasnya sih bisa dibungkus, pitanya juga bisa diiket lagi. Tapi rasanya udah ga sama lagi, karena kita mendahului dari waktu yang seharusnya, dan ga sabar menunggu.


Perumpamaan ini sederhana tapi ngena banget ya? Sesuatu yang seharusnya menggembirakan kita, jadi biasa-biasa aja, bahkan menghancurkan kita. Keperawanan kita adalah hadiah yang berharga untuk suami kita. Allah ingin melindungi kita agar tidak kehilangan hal itu. Allah juga ingin melindungi kita dari penyakit menular seksual, yang dampaknya bukan cuma buat diri kita, tapi juga buat suami kita di masa depan, dan juga anak-anak kita. Terus Allah juga ingin melindungi kita dari kehamilan yang tidak diinginkan, yang bisa mengarahkan kita pada dosa lain yaitu aborsi, atau nanti membuang anak kita, atau pernikahan yang terpaksa, dsb dst. Dia juga ingin kita bebas dari kecanduan seks pra nikah. Seks itu sifatnya adiktif, sekali melakukan pasti pengen lagi, dan ga akan pernah puas. Allah ingin kita terhindar dari konsekuensi-konsekuensi negatif semacam itu. 

2. Emosi

Allah dengan sangat rumit dan ahli menciptakan emosi wanita yang beda dengan pria. Emosi kita ga bisa lepas dari tubuh kita. Makanya waktu PMS nyambung ke emosi juga. Ketika kita melakukan hubungan seks, bukan cuma tubuh kita yang kebawa, tapi emosi juga turut serta. Allah ingin melindungi kita dari kehancuran ini, seperti rasa tertuduh. Kita jadi merasa kaya orang paling berdosa sedunia. Atau rasa kuatir, ada orang lain yang tau ga ya? Gimana kalo gw hamil? Dia mau tanggung jawab ga ya? Dia masih cinta gw ga ya? Nanti kalo putus gimana? Bahkan kalo akhirnya menikah pun, akan timbul rasa tidak aman seperti: Kalo pas sebelum nikah dia ga bisa ngontrol, apa dia bisa ngontrol dengan cewek lain? Dia masih cinta gw ga ya klo bukan karena badan gw? Kalo waktu itu gw hamil dia bakal tetep nikahin gw ga ya?


Allah ingin melindungi kita dari trauma-trauma emosi semacam ini. Tuhan memang bisa mengampuni dan memulihkan kita, tapi luka emosi butuh waktu untuk sembuh. Beban emosi itu bisa diperumit dengan emosi lain kaya penolakkan, kecurigaan, kepahitan, dan depresi. Allah yang menciptakan seks, dan Allah yang menciptakan kita. Dia paling tau gimana yang baik, gimana yang ga baik buat kita. Biarkan Bapa melindungi hati kita. 

3. Relasi

Hubungan kita dengan pasangan, bukan cuma tentang kontak fisik aja. Sebagai wanita, pasti kita rindu untuk dikasihi luar dalam. Pasangan yang memilih untuk tetap murni secara fisik memberikan semua waktu mereka dan perhatian mereka yntuk mengenal satu sama lain pada tingkatan mental dan emosi yang lebih dalam. Begitu nafsu diperkenalkan ke dalam suatu hubungan, sulit bagi si pria untuk berhenti dan kembali dipuaskan hanya dengan mengembangkan persahabatan. Perhatian pria jadi teralihkan pada hal fisik. Padahal apa yang kita butuhkan, dan yang Allah inginkan adalah pria dan wanita menikmati kasih yang sesungguhnya, bukan hanya hubungan seksual. 

Lalu pikirkan juga hubungan dengan anak-anak kita di masa depan. Kita mau jawab apa pas mereka tanya,”Bagaimana ayah dan ibu menunggu?” Nah loh. Gimana kita mo ajarin mereka untuk jaga kekudusan kalo kita ga memberi teladan dalam hal kemurnian?

Belum lagi kalo ternyata pria yang kita nikahin bukan pria yang buka hadiah kita pertama kali. Kenangan tentang pria itu bisa muncul di pernikahan kita. Kita bisa membanding-bandingkan dan jadi tidak puas. Gimana juga cara kita ngaku ke calon suami kita kalo kita udah kasih hadiah berharga kita ke orang lain? Sebaliknya, coba bayangin sukacita kita kalo bisa bilang ke calon suami kita, “Ini diriku, bersih dan murni, secara emosi maupun fisik, tidak ada yang pernah menyentuh harta kekasihku. Aku telah menjaga diriku bagimu.” Hehe.


4. Rohani

Waktu melakukan dosa seksual, rasanya ada suatu penghalang yang besar antara kita dan Allah. penghalang itu adalah rasa tertuduh. Rasa bersalah dapat membuat kita bertobat, atau malah membuat kita menjauh dari Allah. Perasaan ga layak, kotor, menjijikan, membuat kita ga berani menghadap Allah dan terus berkubang dalam lubang tersebut. 

Ga cuma itu, rasanya sulit buat kesaksian tentang Yesus kalo orang tau apa yang kita lakukan. Gimana kita mau cerita tentang kekudusan kalo orang tau kita melanggarnya? Gimana kita bisa berbagi tentang Yesus kalo kita penganut seks bebas? Pasti akan lebih susah buat kita dan juga buat orang lain.


It's worth the wait, isn't it? Betapa Allah mengasihi kita dan Dia telah memikirkan semuanya yang terbaik untuk kita.

Oh ya gw dapet kalimat yang keren abis buat para pria, "If you wouldn't make her your wife, don't make her a mother." Hehe.

Lalu bagaimana cara menjaga kemurnian? Baca Purity: How to Guard Ourselves?

Sumber: Buku Lady in Waiting Bab 6, bagian dari tulisan tentang Wanita yang Murni.

Saturday, January 19, 2013

WANITA YANG PENUH PENGABDIAN

Setelah belajar tentang Wanita yang Penuh Kebajikan di Bab 4 buku Lady in Waiting, sekarang kita akan mengupas bab selanjutnya, tentang Wanita yang Penuh Pengabdian. Dalam Bab ini, gw menemukan bahwa untuk benar-benar mengabdi sama Yesus ada banyak hal yang perlu dibereskan dalam diri gw. Semoga yang baca ini ga kaget ya kalo di bawah banyak tempelakan dari Tuhan. Hehe, gw sangat merasakannya, tapi bersyukur jadi tau mana yang perlu diperbaiki. 

Lagi-lagi, setting kita di pesta pernikahan. Misalnya nih, ketika menghadiri pesta, biasanya ada di antara tamu undangan yang akan menanyakan kapan giliran kita, kenapa kita masih jomblo aja. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin dapat mengusik kita yang lagi fokus dengan pengabdian pada Yesus. Kita jadi dianggep kaya orang yang ga mencapai standar tertentu. Padahal kalo Yesus yang jadi tamu di pesta itu, pasti kita dipuji deh karena udah pake waktu lajang secara maksimal. Hehe. 


Banyak orang yang melihat wanita lajang sebagai orang yang harus dikasihani. Duh, ini salah banget loh. Justru sebagai Wanita dalam Penantian bisa mengembangkan hubungan khusus kita dengan Kristus tanpa gangguan apapun. Ini emang rancangan Allah dari semula. Ia dengan lembut menciptakan wanita untuk mengasihi Dia dan untuk mengalami berkat bersekutu dengan-Nya. Inget ga di kisah Kejadian, waktu pertama kali Allah menciptakan Hawa, Adam dibuat tertidur. Yang pertama kali dilihat Hawa siapa? Bukan Adam, tapi Allah. Hawa menikmati waktu bersekutu dengan Allah, berdua aja, sebelum akhirnya dia dibawa kepada Adam. Jadi Hawa benar-benar menikmati Dia dan mengabdikan dirinya secara total untuk Allah. 

Allah masih pengen wanita-wanita jaman sekarang alias kita, mengenal dan mengasihi Allah seperti itu juga, tapi karena dosa dan tipu muslihat Iblis, kita jadi ga punya gambaran benar tentang Allah. Sama seperti Hawa yang telah dibohongi, kita juga nih. Karena ga mendapat gambaran benar bahwa Allah sungguh mengasihi kita dan merancangkan yang terbaik untuk kita, kita jadi ragu sama Dia, dan kita berusaha mencari orang lain untuk memenuhi kerinduan kita akan kasih. 

Jadi, kenapa pengenalan yang tepat akan Allah ini penting? Karena bagaimana caranya kita bisa mengabdi pada Allah kalau kita tidak kenal Dia? Bagaimana bisa menyerahkan tanpa ragu kalau kita ga yakin siapa Dia dan ga percaya apa yang Dia akan berikan pada kita? Pengalaman masa lalu, kepahitan, dan tindakan orang-orang di sekitar kita bisa memberikan gambaran yang ga tepat tentang Allah. Nah, cara paling baik untuk kita mengenal Allah adalah dengan membangun hubungan kita pribadi dengan Dia, menyelinap masuk ke bawah sayap-Nya dan menemukan sendiri siapakah Allah sebenarnya, perlindungan yang kita butuhkan.


Gimana caranya untuk menyelinap masuk ke bawah sayap-Nya? Sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia, salah satunya lewat membaca Firman Tuhan. Percayalah. Doa ga cukup kalo ga disertai pengertian akan Firman. Orang Kristen yang cuma mau doa tanpa mau baca Alkitab sama dengan orang yang berangkat perang, tau cara pake senjata, tapi senjatanya ga dibawa. Sedangkan yang baca Alkitab aja tapi ga pernah doa, kaya orang yang bawa senjata, tapi ga tau gimana cara pakenya. Intinya, dua hal itu ga terpisahkan. Baca lebih lengkap di Perlengkapan Senjata Allah salah satu perikop favorit gw hehe. Di situ akan lebih jelas apa jadinya kalo kita ga mengenal Firman Tuhan. 

Memang percuma kalo kenal Firman aja tapi ga dilakukan, kaya kata Yakobus 1:22-27, kita harus jadi pelaku Firman bukan hanya Pendengar saja. Tapi untuk jadi pelaku pertama-tama kita harus tau dulu, bukan begitu? Hehe. Oh ya, buat yang males baca karena ada bagian-bagian yang ga ngerti, gw juga begitu. Emang harus rajin-rajin baca buku referensi lain karena kita hidup di budaya yang beda. Sebelum baca, doa dulu minta hikmat. Kalo emang ada yang ga ngerti bisa tanya sama pendeta kita. Yang penting tetep usaha baca. Kenapa? Mari baca perumpamaan tentang Kantong Plastik. Bagus banget. Hihi. 


Mencari Cinta Sejati 

Mencari Allah itu kaya membangun persahabatan, ada banyak cakap-cakap, saling dengerin satu sama lain, saling tulis surat, cari tau apa yang disuka dan ga disuka, saling mikirin, terus juga melakukan hal-hal yang menyenangkan sahabat kita. Makin banyak menghabiskan waktu bersama, makin dalam pula kita mengenal dia. Seperti itu juga hubungan kita dengan Allah. Gimana sih cara kita mencari cinta sejati alias Allah kita? 

1. Mencari dengan segenap hati. 

Yeremia 29:12-13 menjanjikan kalo kita mencari Allah dengan segenap hati, maka kita akan mendapati-Nya. Hati kita adalah kunci pengabdian kita pada Allah. Agar dapat menemukannya, kita harus benar-benar mencari dengan sepenuh hati, bukan setengah, atau 99% hati. Apa itu berarti Allah menuntut kita terlalu banyak dengan meminta segenap hati kita? Coba sekarang kita renungkan, nanti kalo kita udah punya suami, terus dia bilang, “Honey, aku mencintaimu dan akan mengasihimu selama 364 hari dalam setahun. Tapi aku minta 1 hari aja ya, buat cari cewek lain.” 

Nah lho, udah banyak tuh 364 hari dia kasih buat kita. Tapi apa kita mau walo cuma 1 hari aja dia cari cewek lain? Enggak, donk? Hehe. Egois ga kita? Enggak donk (lagi). Kaya gitu jugalah Allah kita. Dia ga mau 313 hari kita menyembah Dia, tapi 52 hari lain (sehari setiap minggunya) kita baca Ramalan Bintang yang kita kira sepele tapi sebenernya termasuk nyembah berhala karena percaya pada “ilah” lain (buat pembahasan, klik link).

Allah ga nuntut macem-macem, ga nuntut dari pagi kita bangun sampe malem kita tidur kita di kamar terus abisin waktu sama Dia. Nope. Tapi yang penting adalah gimana kita selalu prioritasin Dia di tempat nomor satu, tidak tergeser karena hal-hal lain. Kita ga bisa menyimpan sebagian hati kita buat sesuatu yang keliatannya lebih baik nanti. Pengabdian kita kepada Kristus haruslah suatu komitmen serius pada Ketuhanan Kristus. Kristus mengasihi kita dan menyerahkan dirinya sepenuhnya bagi kita. Sebagai balasannya, abdikanlah diri kita sepenuh hati untuk mengasihi dan menikmati Dia selama 365 hari dalam setahun.

2. Mencari dengan hati yang bersih. 

Nah, terus kalo kita ingin mengenal Allah secara intim, bukan cuma mencari dengan sepenuh hati, tapi juga dengan hati yang bersih. Jadi kita harus bersihkan bercak-bercak dosa yang muncul di antara kita dan Kristus. Soalnya Tuhan ga bisa tinggal bersama dosa, dosa itu menjijikan bagi Dia. Coba bayangin waktu sepasang kekasih yang lagi jatuh cinta. Si cowok sangat menikmati berada dekat dengan ceweknya. Tapi pas lagi ngobrol, napasnya bau! Eugh, ternyata si cewek abis makan bawang, padahal si cowok benci banget bau itu! Si cowok pasti jadi ilfil. Terus gimana donk? Berkumurlah si cewek pake obat kumur yang ampuh biar napasnya jadi seger lagi. Lebih baik lagi, si cewek ga akan makan bawang pas mo ketemu si cowok, supaya di antara mereka ga ada halangan apapun untuk berdekatan. Nah, dosa itu lebih memuakkan bagi Allah daripada sekedar napas bau bawang. Jadi kalo ingin pengabdian kita lengkap, jangan tunda lagi, akui dan bereskan dosa itu di hadapan Allah setiap tercium napas rohani yang tidak sedap. 

3. Mencari dengan hati yang murni 

Banyak orang yang lebih suka mencari tangan Tuhan (baca: berkat) daripada wajah-Nya (baca: kehendak). Mereka tidak menginginkan Allah sebanyak mereka menginginkan sesuatu dari Allah. Sesuatu itu dapat berupa pria, kebahagiaan, atau sebuah keluarga. Pencarian pada Allah yang tidak murni ini hanya terbatas pada apa yang bisa didapatkan. Ini lebih menyerupai kasih terhadap diri sendiri daripada kasih pada Allah. 

Pencarian semacam ini hanya akan berujung pada kesengsaraan, bukan kasih yang kita rindukan. Padahal Allah bukan kartu kredit kita, Dia tau motivasi kita. Kalau kita mau bertumbuh dalam pengetahuan tentang Allah, kita harus mencari Dia dengan hati yang benar, yaitu dengan hati yang murni. Wanita yang mencari Dia dengan hati yang murni bukan berfokus pada apa yang Allah berikan, tapi wanita tersebut bersuka di dalam Dia. Sama kaya kita yang pasti ga mau dikasihi cuma gara-gara ada yang bisa diminta dari kita, Allah juga ga mau. Jadi kita harus mencari Dia karena siapa Dia, bukan karena apa yang bisa Allah lakukan bagi kita. 

4. Mencari dengan hati yang mendengarkan 

Pernah ga dalam suatu percakapan, lawan bicara kita tuh ngomong terus? Kita ga dikasih kesempatan sama sekali buat ngomong. Bahkan kalaupun orang itu sangat istimewa buat kita, pasti tetep capek deh kalo terus-terusan pembicaraannya satu arah. Nah, kaya gitu juga komunikasi kita ke Tuhan. Kita emang sangat istimewa di mata Tuhan dan Dia suka dengerin kita cerita dan menghabiskan waktu dengan-Nya. Tapi ada banyak hal yang ingin Dia sampaikan, yang jadinya ga kedengeran sama kita karena kita ngomong terus. Minta ini, minta itu, ngeluh ini, ngeluh itu, cerita ini cerita itu, lalu Amin. Terus kapan giliran Tuhan ngomongnya? Pas baca Alkitab juga, abis baca secepat kilat lalu tutup. Ga ada waktu buat merenung dan mendengarkan apa yang mau Tuhan sampaikan. Lebih lanjut pembahasannya di Listening to His Voice.

Kaya pas kita kenalan sama orang, kalo kita doank yang cerita, jadinya kita ga tau apa-apa tentang orang itu kan? Jadi ga kenal lebih dalem tentang Dia. Begitu juga ketika kita ga pernah memberi kesempatan Tuhan untuk bicara. Kita ga bisa mengenal Dia lebih lagi. Pengetahuan kita jadi dangkal. Waktu saat teduh dengan Allah tiap hari, belajarlah untuk mendengarkan Dia waktu kita baca dalam Alkitab, kasih dan pemikiran-Nya tentang kita. Dengarkan apa yang Tuhan ingin sampaikan secara pribadi. Duduklah dengan tenang dan tulis kesan-kesan yang didapat saat mendengarkan. Alkitab adalah surat cinta Tuhan, dengan mempelajarinya kita jadi tau apa yang Dia pikirkan tentang kita dan renana-rencana indah yang Dia siapkan. Alkitab adalah buku harian Tuhan, sehingga dengan membacanya kita jadi tau isi hati-Nya yang terdalam, dan kita bisa mengenal karakter-Nya dengan jelas. Kalo udah kaya gitu, saat teduh kita pasti akan terus bertumbuh. 


Gimana? Makin semangat mencari Allah? One thing we should remember in mind, keadaan lajang itu bukan kutukan. Perempuan lajang ga harus dikasihani sampai akhirnya mereka menikah. Justru keadaan lajang bikin kita punya lebih banyak waktu untuk mencari Allah. Terlalu banyak wanita lajang yang menyia-nyiakan tahun-tahun berharga saat ia menanti “kehidupan dimulai” – setelah pernikahanPadahal mengabdikan diri bagi Allah tidak bisa menunggu sampai kita menikah. Kita harus memilih untuk mengejar kekasih jiwa kita, tunangan surgawi kita, Yesus Kristus. Kita udah dikasih waktu-waktu yang berharga, jangan disia-siakan karena waktu tidak akan kembali lagi. Jadilah wanita yang penuh pengabdian, taat dan setia kepada Dia.


Saturday, January 05, 2013

WANITA YANG PENUH KEBAJIKAN

Mutiara. Siapa yang ga suka mutiara? Bentuknya indah, elegan, kesannya berharga banget. Jadi inget percakapan absurd gw sama temen kantor di suatu siang. Kita lagi mau apply kartu kredit Mandiri dan disana ada beberapa pilihan kartu, ada mawar, mutiara, saxophone, dll. Temen gw udah pasti saxophone, karena dia hobi main itu, bahkan namanya kalo main game adalah Lady Sax. Haha. Gw bingung antara mutiara sama mawar. Lalu dia bilang, "Lo mutiara aja, cocok buat lo." Terus bertanyalah gw dengan pede-nya, "Cocok sama aku? Soalnya aku berkilau  kaya mutiara ya?" Lalu dia menjawab, "Bukan, soalnya muka lo mirip kerang." Hahaha. Anyway, jadi setelah belajar tentang wanita beriman di Bab 3, sekarang di Bab 4 buku Lady in Waiting ini kita akan membahas tentang wanita yang penuh kebajikan. 


Nah, bicara soal mutiara, sebuah objek yang indah dan mahal yang lahir dari kesakitan dan iritasi. Waktu sebuah potongan kecil butiran pasir masuk ke cangkang lalu menggosok jaringan lunak sehingga terjadi iritasi, tiram menghasilkan zat bernama nacre yang membalut butiran pasir itu sehingga akhirnya menjadi mutiara yang berkilau. Hidup kita juga seperti itu. Banyak luka dan iritasi yang kita hadapi, tapi ketika kita dengan sikap yang tepat membiarkan Tuhan membentuk kita, pasti kita akan jadi mutiara yang indah. Sayangnya ada banyak wanita lajang yang melihat diri sebagai kulit tiram yang buruk rupa di pantai kehidupan, tertimpa pencobaan dan masalah yang muncul, karena tidak menikah. Lebih buruknya lagi, kita membandingkan eksterior yang keras dengan semua kerang indah di sekitar kita. Lalu kita bertanya-tanya bagaimana mungkin akan ada pria yang memberi perhatian pada kita.

Kalo kita adalah salah satu dari wanita ini, kita ga boleh patah semangat. Jangan malah menganggap masa lajang ini sebagai butiran pasir yang harus dibuang atau dikeluarkan. Justru kita harus menyadari bahwa Allah membiarkan butiran tersebut untuk menciptakan sesuatu yang indah di dalam kita. Justru ketika kita merespon butiran pasir itu dengan tepat, kita akan keluar sebagai mutiara. Karakter kita dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan buah-buah yang merepresentasikan Kristus di dalam diri kita. 

Sama seperti cerita Boas yang jatuh hati pada Rut karena kebajikan dan karakter yang dinyatakan dalam kehidupan Rut. Seorang wanita yang penuh kebajikan adalah sesuatu yang tidak dapat ditolak oleh pria yang saleh. Pasti banyak wanita yang berpikir bahwa dirinya kurang cantik, kurang menarik di mata pria, soalnya gw juga pernah berpikir demikian. Hehe. Bahkan ada cowok sendiri yang bilang, "Yang namanya cowok itu pasti liat fisik." Gw jadi makin kepikiran kan. Sebagai wanita pasti kita merasa ada yang kurang. Hidung kurang mancung, kulit kurang putih, mata kurang besar, wajah kurang mulus, badan kurang langsing, rambut kurang indah, dan sebagai-sebagainya. Terus alasan kita ingin cantik juga beragam, tapi sebagian besar sih karena ingin menarik dan dicintai pria, karena kita terjebak dengan pemikiran bahwa fisik kitalah yang dapat menarik pria mendekat.

Tapi tau ga, rahasia umum ini? Bahwa apa yang kita pakai untuk mendapatkan seorang pria, itulah yang harus kita pakai untuk mempertahankannya. Jadi kalo kita dapet pacar atau suami hanya karena wajah kita yang cantik, maka kita harus pertahankan dia dengan itu. Kalo gara-gara body yang yahud, ya pertahankan dengan itu juga. Masalahnya bisakah kita pertahankan fisik kita di masa depan? Mungkin kita bisa olahraga supaya badan tetep oke dan pake produk anti-aging ya, haha, tapi sampe kapan sih? Kalau hanya itu value yang kita punya, maka sifatnya semu, sebentar saja pudar. 

Lain kalau dia mencintai kita karena apa yang ada di dalam diri kita. Semakin berjalannya waktu, proses yang ada di dalam biasanya semakin baik, semakin indah, seperti mutiara. Yang ada, bukannya pudar, tapi cintanya makin besar dari ke hari. Hehe. Tapi bukan lantas kita jadi sembarangan dan menelantarkan tubuh kita ya. Coba baca INI, tentang betapa kita berharga bukan karena penampilan, tapi kita juga perlu menjaga tubuh kita sebagai bentuk ucapan syukur pada Tuhan, karena tubuh kita adalah bait Allah.

Sayangnya, dunia udah meyakinkan kita kalo satu-satunya cara dapetin perhatian pria ya lewat tubuh yang indah. Akhirnya para wanita jadi sibuk bahkan menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan apa yang mereka mau, standar kecantikan fisik yang dibentuk dunia ini. Padahal pernikahan yang didasarkan hanya pada kecantikan lahiriah dapat berakhir begitu saja ketika muncul sesosok tubuh yang lebih menarik lagi.

Firman Allah dengan jelas memperingatkan para wanita agar tidak jatuh dalam "jebakan indah sebuah tubuh". Fokus kita jangan sampai salah, karena kecantikan sejati tidak ditemukan di luar. Kunci keindahan itu ada di 1 Petrus 3:4, "Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah." Keindahan ini justru bertambah indah seiring berjalannya waktu. Jadi sekarang para wanita, fokus kita berubah donk? Bukan takut keriput, jerawat, paha menggelambir lagi, melainkan jadi wanita yang benar-benar takut akan Tuhan seperti di Amsal 31:30, "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan TUHAN dipuji-puji."



Para wanita, tentunya kalo disuruh menggambarkan pria yang kita idamkan, pasti kita ingin pangeran kita itu seorang pria yang mengabdi pada Allah donk? Yang berkarakter - mau diajar, dapat dipercaya, setia, jujur lembut, dan baik? Nah terus pria saleh kaya gini maunya menikah dengan wanita seperti apa? Pastinya wanita saleh juga donk, yang mengabdi pada Allah, mau diajar, dapat dipercaya, setia, jujur, lembut, dan baik kan? Hehe, intinya kalau kita mengharapkan seorang pangeran, ya kita harus jadi Putri juga. Kabar baiknya, kita ini emang Putri loh, karena kita kan anak Raja, Yesus Kristus. Hehe, tapi jangan sampai namanya doank yang Putri, tapi karakter, sikap, tutur kata dan tingkah laku kita juga harus seperti seorang Putri. Kalo dalam bayangan gw, seorang Putri itu sopan, baik hati, tau bagaimana harus bersikap, lemah lembut, memiliki simpati dan empati tinggi pada orang lain, dan sebagainya. 


Semua itu ga didapat saat baru lahir lalu kita langsung punya kualitas-kualitas itu. Tapi semuanya dipersiapkan, dipelajari, dilatih sepanjang waktu. Nah, memang itu semua gampang saat diketik tapi susah saat dilaksanakan, tapi kita ga sendiri lho, Rajanya sendiri langsung turun tangan untuk membentuk Putri-Nya. Tenang aja, saat kita mengarahkan perhatian kita untuk mengembangkan karakter ilahi, Kristus akan mengubah kita menjadi putri cantik sebagaimana telah Ia rencanakan pada saat Ia menciptakan kita. 

Kita punya contoh lain untuk belajar lebih lanjut soal kebajikan, selain dari kisah Rut, yaitu kisah Ribka. Yuk, kita liat kualitas menarik yang dia kembangkan dalam masa penantian. Baca Kejadian 24:15-16 deh. Pertama, dia menjaga domba-domba ayahnya, dengan buyung di pundaknya, yang menunjukkan dia seorang pekerja keras. Lalu dia menawarkan minum pada hamba Abraham, yang menunjukkan kebaikan hatinya. Lalu segera diturunkan buyung ke tangannya dan memberinya minum, yang menunjukkan kalo dia bukan wanita yang lamban dan malas, tetapi dia memiliki perhatian murni bagi orang yang membutuhkan, seperti karakter wanita dalam Amsal 31:20. Terus setelah itupun dia tak berhenti, dia juga menimba air untuk memberi minum unta-unta hamba Abraham. Ribka telah berinisiatif dan melayani meski tanpa diminta. Ia juga tidak sedang bersikap manipulatif dengan pelayanan itu. Ia tidak melakukan ini untuk mendapatkan perhatian pria muda sebagai upah. Ia sedang memberi perhatian istimewa kepada seorang musafir tua yang berbau beserta unta-untanya yang berdebu, karena itulah sifatnya. Lalu dia menawarkan jerami untuk makan unta-unta dan juga tempat bermalam, menunjukkan ia seorang wanita yang pemurah. Padahal dia juga ga berada di lingkungan yang sama dengan Ishak, dia ga tau kalo hamba itu bermaksud mencari istri untuk anak tuannya. Intinya apa yang dia lakukan murni karena kebajikannya, bukan dibuat-buat untuk tujuan tertentu. Kebajikan semacam itulah yang perlu kita kembangkan sebagai putri-putri Kristus.

Menguntai Sebuah Kalung Mutiara


Kebajikan dikembangkan dalam masa ketika kita mengizinkan Roh Kudus melakukan pekerjaan istimewa dalam hidup kita. Roh Kuduslah, bukan kita, yang menghasilkan karakter ilahi tersebut. Mutiara-mutiara karakter ini, atau yang kita kenal sebagai buah roh, tertulis dalam Galatia 5:22-23 yaitu "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." Nah, pada saat karakter ini berkembang, kehidupan kita akan menjadi seperti sebuah kalung indah yang teruntai dengan mutiara-mutiara karakter ilahi.


Selain itu, ada juga manik-manik yang digambarkan dalam Galatia 5:19-21 yang mungkin menghiasi hidup kita, yaitu "percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, pencideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya." Kalo kita ingin menjadi wanita yang penuh kebajikan, pastinya manik-manik ini ga boleh  masuk ke kalung kita. Kalau ada manik-manik buruk dalam untaian kalung mutiara kita, manik-manik tersebut harus dibuang dan digantikan dengan mutiara alias kualitas karakter yang Tuhan mau.

Gimana caranya membuang manik-manik buruk tersebut?

1. Mengakui dosa kita dan meminta ampun.
Disini, jangan cuma bilang, "Tuhan ampunilah dosa-dosaku"  titik. Tapi secara spesifik sebutkan apa dosa kita, misalnya, "Tuhan, ampunilah aku karena iri padanya, tidak bersyukur atas apa yang Kau berikan." Setelah spesifik dan sungguh-sungguh meminta ampun, terimalah pengampunan dari Tuhan Yesus. Tidak perlu lagi merasa tertuduh atau merasa bersalah. Tapi jangan lupa, kalau kita masih menyimpan dendam sama orang lain, kita juga harus melepaskan pengampunan terlebih dahulu.

2. Minta Tuhan membersihkan kita dari apapun yang menjadi penyebab awal dosa tersebut.
Misalnya, iri hati kan muncul dari membandingkan diri sendiri dan orang lain, terus merasa tidak bersyukur dan tidak berterima kasih. Bersihkan hati kita dari akar masalahnya, karena kalau tidak kita akan terus-terusan jatuh ke dalam dosa iri hati yang sama.

3. Membiarkan Roh Kudus memegang kendali penuh atas hidup kita.
Ketika kita hidup dalam daging, pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan kita mengikuti keinginan daging juga. Tetapi ketika kita hidup dalam Roh dan penuh dengan Roh, kita melangkah ke dalam kuasa untuk mengatasi keinginan daging tersebut. Biarkan Roh Kudus penuh di dalam kita, memiliki kendali total sehingga kita dapat mengalami transformasi menjadi mutiara-mutiara yang indah.

Mutiara, memang banyak imitasinya. Tapi dalam beberapa tahun, cat yang berkilau itu akan retak dan pudar, dan yang tersisa hanyalah manik-manik plastik tidak menarik yang tergantung pada seutas tali. Sebaliknya, Roh Kudus menghasilkan kecantikan batiniah yang sejati. Mutiara-mutiara karakter ilahi membutuhkan waktu untuk berkembang, tetapi betapa diberkatinya wanita yang dihiasi oleh mutiara-mutiara itu. Kita dapat puas dengan sebuah kalung imitasi dari mutiara palsu dengan mencoba menutupi ketidaksalehan karakter itu, atau kita dapat mengizinkan Roh Kudus menggunakan pasir-pasir keadaan lajang untuk menciptakan mutiara yang sesungguhnya. Yuk, kita menjadi wanita seperti di Amsal 31, dan menguntai sebuah kalung kebajikan dari mutiara yang indah sebagai harta bagi Tuhan.

"Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? 
Ia lebih berharga dari pada permata."



Next: Wanita yang Penuh Pengabdian