Sunday, December 09, 2012

WANITA DENGAN PENYERAHAN TANPA RAGU

Hello! Hari ini kita akan belajar Bab pertama dari buku Lady in Waiting alias Wanita dalam Penantian. Akan ada beberapa perumpamaan dari berbagai sumber juga supaya lebih jelas. Pada Bab pertama ini, kita belajar menjadi seorang wanita dengan penyerahan tanpa ragu. Kepada siapa? Yuk dibaca! 

Sebagai wanita, pernah ga kalo dateng ke pesta pernikahan orang atau keluarga, lalu ditanya, "Kapan nih giliran lo?" Pasti sering ya. Trs gimana reaksi kita? Mungkin macem-macem, ada yang dengan yakin jawab, "Abis ini donk!", atau ada yang masih sendiri dan jadi galau, trs kepikiran sampe rumah deh. 

Emang sih, wanita pasti ingin menikah, ingin bertemu dengan pangerannya dan hidup bahagia selama-lamanya. Kita mikirnya, kalo udah nikah rasanya hidup gw udah lengkap. Sebagai wanita hidupku sudah utuh karena punya suami. Tapi jangan heran kalo setelah menikah, kita merasa kecewa bahwa ternyata hal-hal tersebut sama sekali ga mengisi rongga atau kekosongan di dalam hati kita. Kenapa?

Karena sejak semula, kita diciptakan untuk dilengkapi oleh Yesus. Bahwa hanya Yesuslah satu-satunya kekasih jiwa yang bisa membuat kita merasa utuh dan lengkap sebagai manusia dan juga wanita. Kita mungkin berpikir kalo pria yang tepat dapat mengisi itu, namun kenyataannya dia juga manusia, yang bisa berbuat salah dan menyakiti kita. Kalo kita berharap sama dia, buntut-buntutnya pasti merasa kecewa juga. Itulah kenapa pasangan atau apapun juga ga boleh jadi fokus utama dalam hidup kita. Kita harus mengetahui bahwa seorang wanita menjadi seorang wanita saat ia menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan baginya

Ketidakutuhan bukanlah akibat menjadi lajang, tetapi akibat tidak penuh di dalam Yesus. Hanya melalui proses penyerahan tanpa ragu kepada Yesus sajalah seorang wanita manapun dapat akhirnya mengerti bahwa di dalam Dia, ia utuh. Waktu dua orang lajang yang "tidak utuh" menikah, penyatuan diri mereka tidaklah dapat membuat mereka utuh. Pernikahan mereka hanyalah menjadi dua orang yang "tidak utuh" berusaha mendapat keutuhannya di pihak yang lain. Hanya saat mereka memahami bahwa kepenuhan mereka didapat dalam suatu hubungan dengan Yesus barulah mereka akan dapat mulai saling melengkapi satu sama lain. Mereka tidak akan dapat saling memenuhi. Mereka tidak diciptakan untuk membuat pasangannya utuh, tetapi untuk saling melengkapi. Keutuhan adalah tanggung jawab Yesus dan menjadi pelengkap adalah hak istimewa seorang wanita. Seorang wanita yang tidak utuh di dalam Yesus akan membuat suaminya kekeringan. Wanita semacam itu akan berharap suaminya mengisi semua celah yang hanya dapat diisi oleh Yesus.

Sama seperti perumpamaan dua gelas air yang setengah penuh. Gelas itu tidak akan dapat mengisi gelas lain tanpa salah satunya menjadi kosong atau kekurangan. 2 gelas itu tidak dapat memenuhi satu sama lain. Satu-satunya cara untuk bisa penuh adalah dengan mengisi air dari sumbernya, dalam hal ini, Tuhan kita. Perumpamaan ini keren banget deh, karena kita jadi bisa mendapat gambaran yang benar bahwa manusia tidak dapat mencari pengutuhan dan pemenuhan dari manusia lain, hanya Tuhan Yesus aja yang bisa. (Source: HERE)

Pernah denger cerita tentang perempuan Samaria yang bertemu Yesus waktu ngambil air di sumur? Dia telah menikah 5 kali dan tetap merasa hampa. Dia ga menemukan apa yang dia cari, dan dia harus menerima penghakiman dan pengucilan orang-orang disekitarnya juga. Tapi apa yang terjadi ketika dia bertemu Yesus? Yesus menawarkan air hidup yang katanya kalau dia minum dia ga akan haus lagi. Lalu perempuan itu minta air yang Yesus maksud. Nah, yang Yesus maksud dengan "ga haus" ini maknanya lebih dalam dari itu. Bahwa si perempuan ini ga akan haus alias hampa lagi. Haus akan kasih sayang, haus akan cinta, haus akan perhatian, rasa aman, dari seorang pria. Setelah Yesus membukakan dosa-dosanya dan berbicara ke dalam hatinya, akhirnya perempuan itu sadar kalo pria-pria itu ga bisa memenuhi kekosongan dirinya dan bahwa benar, air kehidupan alias Yesus sendiri, telah menjawab rasa haus yang selama ini dia alami. (Source: HERE)

Nah sekarang setelah mendapatkan gambaran yang benar, gimana caranya untuk fokus sama Yesus dan menyerahkan semuanya tanpa ragu ke tangan-Nya? Kita belajar tentang Rahasia Kotak Batu Pualam Putih. Jadi waktu Tuhan Yesus ada di dunia, seorang wanita yang umurnya sudah cukup untuk menikah akan mendapat sebuah kotak batu pualam dari keluarganya, untuk diisi dengan minyak yang berharga. Ukuran kotak dan harga minyaknya sesuai dengan kekayaan keluarga wanita itu. Nah kotak batu pualam ini akan jadi bagian dari mas kawin. Nanti kalo ada pria yang melamar dia, wanita ini akan memecahkan kotak batu pualam ini di kakinya, sebagai tanda penghormatan kepada pemuda itu. 

Suatu hari waktu Yesus lagi makan, seorang wanita datang dan memecahkan kotak batu pualam itu, lalu mencurahkan minyak yang berharga itu di kepala Yesus. Padahal wanita ini seorang pendosa lho. Tapi dia percaya Yesus berhak mendapatkan penghormatan seperti itu, bahwa Yesus adalah satu-satunya Pribadi yang dapat mewujudkan impiannya. Nah bagaimana dengan kita?

Sama, masing-masing kita juga punya kotak batu pualam putih itu, yang isinya mungkin adalah fantasi masa kecil, harapan-harapan kita akan kehidupan pernikahan yang bahagia? Apakah sekarang kita sedang mencari-cari pria kepada siapa kita akan memecahkan kotak kita? Bawalah kotak kita kepada Yesus dan pecahkanlah di hadirat-Nya, karena Dia layak menerima penghormatan itu. Karena kita semua sebagai gereja-Nya, adalah mempelai surgawi-Nya. 

Lalu bagaimana caranya memecahkan kotak batu pualam putih kita di kaki Yesus dan menyerahkan hidup kita tanpa ragu kepada-Nya? Percayakan hidup kita, impian kita, masa depan kita, tubuh jiwa dan roh kita, hanya kepada Tuhan Yesus. Ketika kita sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus, termasuk pasangan duniawi kita, selanjutnya hiduplah untuk kemuliaan-Nya. Kalau selama ini kita menghabiskan waktu untuk mencari-cari siapa yang bisa didekati, siapa yang berprospek jadi suami masa depan, siapa yang bisa dijadikan pacar untuk menemani akhir pekan, sekarang fokuslah melayani. Kita bisa belajar tentang penyerahan tanpa ragu dari Kisah Ruth di Perjanjian lama, yang dibahas dengan mudah dimengerti di buku ini. 


No comments:

Post a Comment